Mengenal Bell’s Palsy

on

Bell’s Palsy belakangan menjadi topik yang ramai dibicarakan di televisi sejak seorang tokoh masyarakat Indonesia terkena penyakit tersebut. Aku sendiri beberapa kali menangani kasus yang sama dan beberapa waktu belakangan adikku juga sempat menderita penyakit tersebut. Ga cuma orang indonesia aja, Bell’s palsy juga bisa menyerang para aktor dan aktris hollywood seperti Katie Holmes, Pierce Brosnan, dan Sylvester Stallone! (ya kan mereka juga manusia ya pasti bisa kena sakit juga lah ya) Nah sekarang saya akan membahas mengenai Bell’s Palsy from A to Z (gaya banget kaya jago aja).

Bell’s Palsy atau yang disebut dengan Idiopathic Fascial Paralysis merupakan kelumpuhan pada saraf wajah yang bersifat unilateral akut, sehingga hanya terjadi pada satu sisi wajah. Penyakit ini dinamakan Bell’s Palsy karena diambil dari nama tokoh yang mengenalkannya pada tahun 1829, Charles Bells. Pada awalnya istilah Bell’s Palsy digunakan untuk seluruh kasus kelumpuhan saraf wajah, namun saat ini hanya digunakan untuk kelumpuhan saraf wajah yang tidak diketahui penyebabnya.

Bell’s palsy merupakan penyumbang kasus terbanyak pada kelompok penyakit kelumpuhan saraf wajah. Insidensi Bell’s Palsy berkisar antara 20-30 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Data menunjukan tidak ada pengaruh antara insidensi dengan musim dan letak geografis. Kelompok umur yang tersering menderita penyakit ini adalah usia 15-45 tahun. Sedangkan angka kejadian antara pria dan wanita, lebih tinggi 4,5 kali pada wanita, terutama pada wanita hamil dan penderita diabetes mellitus.

facial nerve anatomy
facial nerve anatomy

Yuk kita bahas sedikit mengenai anatomi saraf wajah atau nervus fasialis. Nervus fasialis (CN VII), memiliki 4 buah inti yang mengatur kerjanya, yaitu nukleus fasialis (mengatur motorik wajah), nukleus salivatorius (viseromotoris faring, palatum, rongga hidung, dan sinus paranasal), nukleus solitarius (viserosensoris 2/3 anterior lidah) dan nukleus sensori trigerminus. nukleus yang terpengaruh pada Bell’s Palsy adalah nukleus motorik. Nukleus motorik ini terdiri dari 2 bagian yaitu superior dan inferior (atas dan bawah). Bagian superior (atas) mengatur motorik wajah bagian atas dan bagian inferior (bawah) mengatur wajah bagian bawah.

Penyebab pasti dari Bell’s palsy sampai saat ini masih belum diketahui. Terdapat beberapa teori yang telah dikemukakan, salah satunya adalah teori iskemi vaskular dan infeksi virus. Teori iskemi vaskular yang dipopulerkan oleh Mc Groven pada tahun 1955 ini menyatakan bahwa bells palsy terjadi karena adanya kompresi pada pembuluh darah yang memperdarahi saraf wajah, sehingga pasokan darah ke saraf wajah berkurang. Teori ini menjadi perdebatan karena kayanya kolateral perdarahan pada saraf wajah, sehingg saat terjadi kompresi masih banyak vaskular lain yang memperdarahi. Oleh karena itu, pada tahun 1972 McCromick mencetuskn teori mengenai infeksi virus, dimana infeksi pada saraf wajah merupakan infeksi sekunder yang terjadi karena infeksi di tempat lain. Infeksi primer yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada sarfa wajah adalah otitis media (infeksi telinga tengah), meningitis bakterialis, lime disease, HIV dan Herpes Simplex Virus.

BellsPalsy_SM

penderita Bell’s palsy akan merasakan tidak dapat mengangkat alis, mengerutkan dahi, menutup mata, serta tidak dapat tersenyum. Gejala lain yang mungkin ditemukan adalah sakit dibelakang telinga, gangguan rasa kecap, pendengaran yang terasa terlalu nyaring, air mata kering, dan rasa baal pada sisi yang terkena. Derajat keparahan pada pasien dinilai dengan House Brackmann Classification. pemeriksaan penunjang tidk perlu dilakukan pada kasus Bell’s palsy awal. sedangkan penegakan diagnosis pada kasus bell’s palsy ini dilkukan secara per eksklusionam, yaitu dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain terlebih dahulu.

House Brackmann Classification
House Brackmann Classification

Penatalaksanaan Bell’s palsy masih dalam kontroversi. 70% penderita bell’s palsy sembuh sempurna dengan atau tanpa terapi, 30%nya mengalami penyembuhan inkomplit, dimna 5% nya memiliki gejala sisa yang berat. Terapi medikamentosa yang dapat digunakan adalah kortikosteroid dengan dosis 1 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis selama 6 hari, kemudian tppering off dan berhenti dalam 10 hari. diberikan juga Metilkobalamin untuk mempercepat proses remielinisasi. Fisioterapi dapat diberikan berupa terapi panas superfisial dan dimuli sejak hari keempat. disertai dengan latihan dan pemijatan.

Secara keseluruhan outcome dari penyakit ini baik, dengan waktu penyembuhan yang bervariasi antara beberapa minggu hinga 12 bulan.

that signature smirk of katie
that signature smirk of katie
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s